Ibu Kota Negara Pindah ?

Jakarta semakin macet, sumpeg, banjir, polusif, dan segudang masalah lain. Warganya gerah, apalagi mereka yang biasa pergi/pulang bekerja dengan naik kendaraan. Jam-jam pergi dan pulang kantor adalah saat-saat paling menyiksa. Jalanan macet tak berujung kapan terurai, tak tentu jam berapa tiba di rumah. Akibatnya tak sedikit orang menjadi stress, kelelahan, dan ujungnya bisa berdampak pada munculnya bermacam penyakit fisik seperti tekanan darah tinggi, dll. Berbagai kebijakan, peraturan dan pembatasan dari sekian kali pergantian gubernur tak kunjung memberikan hasil signifikan.

Muncul wacana pindah ibu kota. Tentu ada yang pro dan kontra. Yang pro memberi contoh Malaysia. Dengan biaya setara Rp.57 trilliun, pusat-pusat pemerintahan dipindah secara bertahap ke Putrajaya. Tak perlu puluhan tahun, ibu kota baru dengan gedung-gedung perkantoran pemerintahan, perumahan pegawai pemerintah dan bermacam sarana telah megah berdiri. Bandingkan dengan hitung-hitungan kerugian akibat macet kota Jakarta. Sebuah penelitian oleh tim pakar lingkungan, menemukan angka akibat kemacetan kerugian mencapai Rp.28 trilliun/tahun. Ini berarti kerugian selama dua tahun dapat digunakan untuk membangun ibu kota baru. Jakarta diperkirakan macet total pada 2014-2015 jika pertumbuhan kendaraan dan jalan tak berimbang.

Salah satu pemikiran memindah ibu kota adalah ke kota Palangkaraya. Tetapi ke kota atau daerah baru manapun, diperlukan studi dan perencanaan mendalam. Salah satu pertimbangan adalah dari sudut pandang geologi. Utamanya adalah mengkaji bagaimana kondisi geologi regional maupun lokal calon lokasi. Pertimbangan yang penting antara lain adalah apakah lokasi tersebut rawan bencana misalnya gempa bumi, aktifitas kegunung-apian, tanah longsor, potensi banjir, dll. Mari kita lihat contoh kajian tersebut jika Palangkaraya dicalonkan menjadi lokasi calon ibu kota negara.

Dari kacamata geologi regional, pemilihan Palangkaraya memiliki sisi positif. Tinjauan tektonik geologi memperlihatkan wilayah Kalimantan secara umum relatif lebih stabil dibanding Jawa. Gambar 1 dan 2 di bawah tulisan ini memperlihatkan peta fisiografi dan profil geologi regional antara Jawa-Kalimantan. Dari sudut pandang teori tektonik lempeng, sekurangnya ada dua masalah. Jawa berada lebih dekat pada sambungan dua lempeng (yakni lempeng kontinen Eurasia dan lempeng samudra Indonesia atau Indian Ocean Plate). Karena itu dua ancaman bencana yang sering terjadi di Jawa adalah bencana gempa bumi (tektonik) dan bencana akibat aktifitas gunung berapi (Gambar 2). Lebih lanjut gempa bumi dapat memicu tsunami dan tanah longsor. Sementara itu Kalimantan relatif lebih terlindung dari dampak tsunami jika gejolak deformasi lapisan batuan di bumi terjadi di lautan Indonesia (y.i. dekat ke epicenter gempa bumi). Dari kacamata geologi (regional) jelas bahwa Kalimantan lebih baik kondisinya dibanding Jawa.

Bagaimana dengan kondisi geologi lokal? Kalimantan, tak terkecuali sekitar Palangkaraya, memiliki banyak lahan bergambut. Karena itu tantangan paling besar adalah bagaimana membangun insfrastruktur yang mampu bertahan di lahan gambut. Megaproyek “Lahan Gambut Sejuta Hektar” memberikan pelajaran penting, bagaimana tanah gambut berperilaku dan bagaimana cara mengatasinya. Itu belum seberapa, karena proyek tersebut utamanya hanya membangun saluran-saluran (kanal) pengairan. Jika sebuah kota harus membangun gedung tinggi, jembatan, jalan raya, jalan kereta (termasuk subway), dll di lahan gambut, tentu biaya tidak murah. Sebuah ibu kota negara tentu tak bisa terisolir, karena itu harus dibangun pula dermaga, bandara, jalan-jalan antar kota/proponsi misalnya ke Banjarmasin, Pontianak, dll. Ini sebuah pekerjaan tidak mudah dan tidak murah. Jalan trans Kalimantan yang menghubungkan Banjarmasin-Palangkaraya saja sering bermasalah, terrendam jika banjir atau air pasang (rob).

Penulis pernah melakukan survei gambut di pemukiman transmigrasi Pangkoh di lembah sungai Kahayan. Ditemukan gambut dengan ketebalan 10 meter bahkan lebih. Di bawah gambut terdapat lapisan lempung yang punya sifat mengembang jika kena air (swelling) dan menyusut ketika kering. Tantangannya adalah bagaimana membangun pondasi pada kondisi tanah seperti ini. Tiang-tiang pancang harus ditancapkan dalam-dalam bila perlu hingga batuan dasar, jalan-jalan, lantai bangunan dan bemacam sarana prasarana seyogyanya tak boleh menyentuh tanah yang sering basah dan terrendam banjir atau air pasang surut (rob). Sudah barang tentu bangunan-bangunan seperti ini membutuhkan biaya besar.

Kajian-kajian seperti itulah yang perlu dilakukan kemanapun ibu kota negara berada jika diputuskan akan dipindahkan. Costly? Yes … of course. Tapi masih tetap bisa dilakukan perhitungan dan perbandingan dengan matang jika ibu kota negara tetap berada di Jakarta atau diputuskan pindah.

 

Tentang untungsumotarto

Male, Indonesian, graduated from Gajah Mada University (Indonesia) and University of Texas at Austin (USA)
Pos ini dipublikasikan di Geologi-Tektonik dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s